Selasa, 09 September 2008

SuperLetoy HL-2 (Supertoy ding, sorry), Siapa yang Bertanggungjawab?

Oleh Kabelan Kunia

Beberapa hari terakhir kita disibukkan dengan berita yang cukup mengenaskan hati, tragedi padi Supertoy HL-2 di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Lagi-lagi masalah ini mengkaitkan dengan kebiasaan presiden kita SBY yang gandrung tebar pesona dengan berbagai proyek yang diproyeksi dapat mengangkat popularitas, lebih-lebih menjelang April 2009.

Sebenarnya saya tidak tertarik untuk membahas masalah ini. Tapi, saya agak 'gatal' karena melihat banyak sekali korban yang tak berdaya, yaitu masyarakat kecil alias petani dalam kasus ini. Bayangkan, dengan kondisi normal saja petani kita sudah tidak dapat dikatakan hidup normal dengan pendapatan mereka yang minus. Ditambah himpitan hidup yang kian mendesak, minyak tanah langka dan mahal, gas tidak punya, kalaupun dapat jatah dari pemerintah, selanjutnya mereka tidak bisa membeli gas yang harganya kian meroket tanpa kompromi.

Tiba-tiba datang malaikat penolong, seolah-olah menawarkan sorga yang terang-benderang dengan mengatasnamakan Staf Khusus Presiden RI. Janji mulai ditebarkan. Bibit Supertoy HL-2mulai disemai yang katanya super karena dapat dipanen tiga kali dalam setahun tanpa melakukan penanaman berulang dengan hasil mencapai 13 ton/ hektar.

Ah, siapa orang yang tidak tergiur dan percaya. Utusan pemerintah gitu loh.....
Aduh, rakyatku yang malang, rupanya engkau masuk dalam perangkap dan jebakan orang yang tidak bertanggungjawab.

Konon, pada panen perdana yang penuh seremonial oleh Bapak SBY, dilaporkan varietas Super ini hanya memproduksi padi 7,3 ton/hektar saja. Nah, pada penen kedua yang menghebohkan karena amuk petani sudah tidak dapat dibendung, gagal total alias tidak berproduksi.

Setelah semua terjadi, siapa yang bertanggungjawab. Pemerintah jelas-jelas dari beberapa kali pernyataan tidak bertanggungjawab. SBY lewat juru bicarannya merasa tidak terlibat. Pemerintah dalam hal ini Deptan lewat menterinya, merasa kecolongan dan tidak pernah diminta oleh panpel atau SBY sendiri ngurusi ujicoba varietas padi baru ini.

Nah, lho, siapa yang dapat bantu petani kita yang ketiban sial? Beginikah presiden kita yang hebat dan pemerintah kita yang amburadul ini bersikap? Gampang sekali melempar tanggungjawab setelah keringat rakyat kecil disedot lewat proyek yang tidak jelas ini?

Saya yakin, kalaulah proyek ini sukses, bisa dibayangkan akan banyak sekali orang yang ngacungin telunjuk karena merasa mereka yang paling berjasa mensukseskan proyek ini. Sudah barang tentu presiden kita dengan bangga menyampaikan pidoto kenegaraan di depan sidang paripurna DPR/ MPR di Senayan sana atau mungkin buru-buru kontak ke PBB untuk pidoto di markasnya di Washington sana.

Tapi, nasi sudah jadi bubur. Rupanya pejabat dan pemimpin kita tidak belajar dari pengalaman, termasuk pengalaman pahit sekalipun. Rupanya Presiden SBY dan timnya tidak belajar dari kasus Blueenergi Mr. Joko Suprapto yang jelas-jelas mengkadali lembaga kepresidenan.

Nah, kalo udah begini, kita harus bertanya, pantas tidak pemimpin berprilaku instan memimpin bangsa yang ingin maju tapi dengan cara yang tidak benar. Jawabannya kita tunggu April 2009.

*Penggiat dan praktisi padi organik SRI,

Tidak ada komentar: